di dalam dunia pergaulan remaja, perdebatan tentang status JOMBLO nggak kalah serunya dengan debat capres yang baru2 ini mulai menghangat.
Banyak yang menyatakan pro, tapi nggak dikit juga yang kontra.
Bagi yang pro,
mereka dengan enjoy bilang “It’s teu nanaon to be jomblo”.
Predikat itu bukan masalah bagi mereka.
Justru mereka begitu menikmati hidup tanpa pasangan. Sebagai bentuk dari rasa syukur mereka,
ada diantaranya yang bikin perkumpulan dengan nama Jojoba alias Jomblo-Jomblo Bahagia, ada juga yang tergabung dalam komunitas Kelompok Jomblo Ceria yang disingkat Kejora. Malah ada yang menamain dirinya, Ijo Lumut yaitu Ikatan Jomblo Lucu dan Imut .hahhaha
Mereka ngerasa keberadaan sang pacar malah bikin ribet.
Kebebasan dan kreativitasnya kaya dipasung gitu loh!
Deket-deket dikit aja ama lawan jenis, dicemburuin,
Nggak mau nurutin kemauan “sang yayang”, dibilang nggak sayang,
Nggak bales SMS atau miskol aja ngadat.,
Nggak nraktir makan atau nggak nganterin pulang dibilang nggak cinta lagi,
Malem mingguan datang telat malah disangka selingkuh,
Punya pendapat berbeda eh malah dicemberutin ..
Kalo udah gini , tentu aja menjadi jomblo itu lebih asik ketimbang pacaran. Jadi punya otoritas penuh buat nentuin langkah kakinya sendiri mau belok kiri kek, serong ke kanan kek atau mau lurus-lurus aja terus tanpa intervensi dan pembatasan dari orang lain.
Mereka juga ngerasa nggak membebani orang lain untuk memenuhi keinginan2nya sendiri.
Nggak heran kalo para jomblo itu begitu bahagia dan ceria menikmati kesendirannya yang walaupun diliputi kesunyian. akheeeuuyy !
Sementara yang kontra,
mereka juga punya argumen yang nggak kalah dahsyatnya.
Bagi mereka, menyandang status jomblo itu seperti kutukan (wew.. serem..).
Soalnya hidup tanpa curahan kasih sayang dari lawan jenis ibarat sayur tanpa garam , Sunyi, garing bin kering kerontang.
Apalagi di kalangan remaja banyak yang menobatkan pacaran itu sebagai simbol pergaulannya.
Alamat bakal tersisih dari pergaulan dan memanen kata2 sindiran serta cibiran yang pelan tapi dalem dan bikin kuping panas, kalah deh pantat penggorengan!
Seperti yang dialami trio dara jomblo Gwen, Keke dan Olin dalam film 30 Hari Mencari Cinta yang dituding jadi lesbian cuma gara-gara nggak punya gacoan. Gimana nggak gondok? Ya nggak nahan.. deh!
Makanya bagi kaum anti jomblo, nggak punya pasangan bisa bikin stress, depressi, desperate dan jadi beban pikiran yang berat.
Gejala ringan sih mungkin cuma uring-uringan nggak jelas,
mimik ngiri ngeliat temennya yang pacaran,
atau krisis percaya diri karena tak kunjung laris (emangnya jualan?).
Tapi bagi yang udah akut banget, gejalanya bisa parah.
Karena nggak kuat lagi menahan rasa malu, gunjingan, ejekan, atawa sindiran, orang bisa menarik diri dari pergaulan sosial atau malah terdampar di Rumah Sakit Jiwa. Bukannya kita nakut-nakutin yaa, cuma bikin kamu parno aja. Hhahha *sama ajaa
Tiada hari tanpa ngobrolin cinta. Otomatis secara psikologis ada beban tersendiri dalam perkembangan jiwa mereka. Malu binti nggak pede dalam kesendiriannya. Merasa terkucilkan disaat kebanyakan temen-temennya udah pada punya gebetan meski baru usia belasan tahun.
Maaf-maaf,
bukannya mau membudidayakan status jomblo,
Bukannya mau ngelarang temen-temen jomblo untuk nyari pasangan,
Bukan juga mengajak para jomblo untuk membujang..
Tapi kalo upaya pelucutan label jomblo selalu berujung pada aktivitas pacaran,
mendingan tetep istiqomah aja menyandang status jomblo.
Seperti pepatah bilang, biar jomblo asal selamat dari aktivitas maksiat. Setuju? ahhahha
istiqomah dengan status jomblo bukanlah sebuah aib yang harus disesali.
Karena derajat manusia dihadapan Allah tidak dinilai berdasarkan predikat ini.
Itu berarti kaum jomblo punya peluang yang sama besar dengan para alumninya yang udah pada merit untuk dapetin pahala Allah yang berlimpah. Jadilah High Quality Jomblo di hadapan Allah.hiihi ..